Sabtu, 01 Januari 2011

Perahu Kertas

"Ini... Anggaplah ini langit..." katanya seraya menyentuhkan jemarinya di kanvas, "sepertinya langit ini kosong. Tapi kita tahu, langit tidak pernah kosong. Ada banyak bintang. Bahkan tidak terhingga banyaknya. Keenan harus percaya itu. Langit ini cuma tertutup awan. Kalau Keenan bisa menyibak awan-awan itu, Keenan akan menemukan banyak sekali bintang. Dan dari sekian banyak bintang, akan ada satu yang berjodoh dengan kita."


Well, di blog kali ini totally gue akan menyinggung habis tentang novel karya Dewi Lestari ini. Kenapa tiba-tiba gue membuat blog tentang perahu kertas? Hmm... Sebenarnya gue tidak akan membuat resensinya sih. Tapi gue lebih ingin bercerita kenapa gue terlalu cinta sama ceritanya. Seperti novel bagus kebanyakan, ceritanya penuh kejutan dan tak terduga di beberapa scene. Tapi yang lebih membuat gue menyukai novel ini adalah karena beberapa kejadian, sikap, keseharian, dan perasaannya gue pun pernah mengalaminya. Dari hal ternormal sampe hal teraneh nya beberapa mirip sama pengalaman gue. Jadi terlalu segar dan lucu aja buat gue.

Dari layar hp Kugy yang mati tapi fungsi hp itu sendiri masih berjalan jd kalo SMS / telpon harus meraba-raba sampe suka salah kirim SMS / telpon,  doyan makan biarpun cewek, kelakuan-kelakuan dia pas patah hati, sedihnya berantem sama sahabat sendiri, sampe ngalirin surat (isinya semacam diary singkat) ke sungai atau sejenisnya (tapi waktu kecil sih, udah ga lagi), yaaaah.. banyak deh. Tapi, jalur ceritanya sendiri beda banget sama gue. Sifat tokoh utamanya jg. Mungkin sama-sama cuek tentang banyak hal, tapi dari ceritanya sendiri sebenarnya Kugy itu cewek yang rapi, tingkat kemauannya tinggi, dan periang. Well, I'm not that good. Hahaha..

Ya anyway, gue jarang melankolis karena novel sumpah, tapi kali ini gue gampang nangis bacanya. :B Sebenernya mungkin bukan karena ini novel pertama yang bagus bangeeeet yang pernah gue baca, tapi mungkin emang makin gede gue makin cengeng / terlalu mudah menghayati / terbawa suatu suasana. Another thing yang gue suka banget dari ini novel, Dewi Lestari tuh pinter banget ngerangkai kata-kata, sangat gue acungi jempol untuk yang satu ini. Banyak banget kata-kata bijak yang gue suka dan bikin gue merenung sendiri, seperti penggalan paragraf pembuka blog ini, sebuah penggalan kata-kata Luhde untuk Keenan. Banyak karakter dewasa di sini, yang bikin gue merasa gue juga perlu banget jadi orang kayak mereka. :)

Bukan cuma kata-kata 'dalem'nya yang bikin gue sering berdecak kagum, tapi juga rangkaian kata dia dalam ngekspresiin perasaan atau suasana tiap scene. Bayangin aja, dalam novel yang lumayan tebel kayak gitu, scene nya kan pasti banyak banget, tapi dia bisa bawain dengan sangat tidak membosankan, tapi bener-bener ngedeskripsiin dengan kata-kata yang luar biasa menarik menurut gue. Klise, tapi nyata, gue selalu ga sabar untuk melahap habis isi cerita buku itu secepatnya, saking seru dan penasarannya. Cara dia menampilkan tokoh demi tokoh dan mengkesinambungkan semuanya begitu patut diacungi jempol. Seolah itu semua lancar keluar mengalir dengan gampang gitu aja dari otak dia. In the end, dia bener-bener jago banget ngerangkai kata dan cerita! :D

Dari inti ceritanya sendiri, gue belajar banyak banget tentang semangat, perjuangan, merelakan, kebijakan, mencintai, ketulusan, kesetiaan, mimpi, inspirasi, memberikan, keuletan--kehidupan. Baca novel ini sama sekali ga nyesel deh, karena emang beneran bagus. Satu hal yang bikin gue gedek, sifat Kugy dan Keenan yang terlalu pasrah tentang perasaan mereka sendiri dan kadang terlalu bikin gue geregetaaaaaaaaaaaaaaan!!! Hahaha.. Mereka gampang banget ngorbanin banyak hal penting dalam hidup mereka cuma gara2 patah hati, terutama Kugy! Padahal kalo di kehidupan nyata, harusnya ga sampe harus ga dateng ke ultah sahabat BAIK dari kecil kan, terus sampe ngorbanin karier yang udah lagi menanjak banget, dan lain sebagainya. Itu aja sih. Sisanya, emang kuwl banget deh ni cerita!! :B

Another fact yang ga penting tentang ni novel, font yang dia pake sama yang gue pake buat blog gue selama ini ternyata sama. Haha.. 

Kutipan-kutipan lain yang gue suka juga (gue ambil secara acak, jadi beda paragraf udah beda scene) : 

"Mungkin saya jenuh, ya?" sahut Keenan, "tapi gimana kalo ternyata bukan sekadar jenuh, gimana kalau saya--"
"Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar." 

"Aku nggak tahu kamu sedang pakai jurus apa, tapi... aku belum pernah dapat hadiah seindah ini." bisik Kugy.
"Saya nggak pakai jurus apa-apa, Gy," Remi balas berbisik, "I just love you. Sesederhana itu." 

"Bagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk menyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?"
"De, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru bertahan... Poyan tidak pernah tahu. Bahkan sampai hari ini. Apakah ini menyerah namanya? Barangkali betul begitu. Tapi dalam apa yang disebut menyerah, Poyan terus bertahan. Poyan tidak tahu. Tapi hidup yang tahu."

Luhde menunduk. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia memahami apa yang diucapkan pamannya. Yang belum ia pahami adalah, mengapa harus sesakit ini rasanya? 

"Harusnya... Harusnya aku bahagia karena Keenan punya seseorang kayak Luhde. Harusnya aku juga senang dapat cincin ini dari Remi. Tapi... kenapa.." ratap Kugy.
"Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola 'harusnya', tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri.," kata Karel sambil tersenyum. "Ini urusan hati, Gy. Berhenti berpikir pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu." 

Dengan runut dan seperti mengurut, Luhde berkata, "Saya, ingin melepas Keenan pergi. Sebelum kita berdua berontak, dan jadi saling benci. Atau bersama-sama cuma karena menghargai. Keenan mengerti?"


Terakhir, kutipan dari "Melajulah Perahu Kertasku...", cerita singkat di balik pembuatan novel ini, masih dengan kata-kata yang sederhana untuk dicerna namun mengena, Dee bercerita tentang inspirasi novel luar biasa ini berasal. Berikut salah satunya:

"Maybe that's all that we need is to meet in the middle of impossibilities.
Standing at opposite poles, equal partners in a mystery."
'Melalui baris-baris itu, saya pun menciptakan kedua tokoh utama saya, Kugy dan Keenan, yang berdiri di dua kutub berlawanan dan pada akhirnya harus bertemu di tengah segala kemustahilan.'

-Erica, Januari 2011

2 komentar: